jongos

Cerita #3: “Kok Saya nggak Difoto?”

Februari 25th, 2008 · 3 Comments

engkoh warung minta difoto

Setelah memotret rambu di depan warungnya, si pemilik warung bertanya kepada saya, “Kok saya nggak difoto?”

Tak saya buang kesempatan itu. Maka saya bidik dan jepretlah dia selagi menyapu jalan di depan warungnya. Lalu hasilnya saya tunjukkan. Dia tertawa senang. Semoga saya ingat untuk mencetak foto itu.

Siapa sih dia? Saya tak tahu namanya tapi kenal wajahnya. Dia pun hapal wajah saya karena beberapa kali saya membeli rokok dan air botolan saat melintas. Ingatan saya dan istri saya tentang warung itu sama: dagangannya yang penuh dan lengkap itu tertata rapi.

Warung dan pembeli. Hubungannya seringkali akrab tapi timpang. Para pembeli hapal wajah pemilik warung tapi pemilik warung belum tentu. Tapi kadang ada saja penjual yang ingat ciri-ciri pembeli, yang hanya datang sekali. Dalam kasus tertentu, pengenalan seperti itu akan membantu polisi – dan, ehm, reporter yang sedang melakukan investigasi.

(138 kata | lokasi: seberang rambu dilarang ngebut)

Tags: Percobaan

3 responses so far ↓

  • Parta // Feb 28th 2008 at 3:47 pm

    yang saya tahu saya sering memanggilnya si engko karena dia langganan saya kalo saya lagi beli rokok di warung si engkoh itu, btw paman ini tinggal di jalan apa yach.., saya di di mawar 2 loh.. :)

  • handz_r1 // Apr 1st 2008 at 6:25 pm

    eh buuzet…bokap gw noh (n_n)! he9 mw tau namanya…da yang mangil ko tedy, ko lim, or engko aja.nah…tinggal dipih salah satu ja..he9 mw tw jg alamtanya, flamboyan raya no 158 chandra baru. thanks for posting….keep posting bro!

  • daniel // Apr 10th 2008 at 12:58 pm

    “handz_r1: flamboyan raya no 158 chandra baru”
    tempat itu di Pd.Gede kan?

Leave a Comment