Maka saya pun mencoba posting melalui e-mail. Semoga
lancar jaya adanya. Mari kita lihat bagaimana hasilnya.
Salam dagdigdug, gidak gidik, dagdug dagdig.
Mencoba Posting via E-mail
Sekali Jalan Menuai 8 Tulisan
Demikianlah adanya. Proyek percontohan main-main untuk ngeblog itu sudah selesai. Delapan cerita itu adalah ilustrasi untuk blog saya yang di sana.
Kok cuma segini hasilnya? Memang bisanya saya ya segini. Cuma posting biasa yang kadang, kalau merujuk Bang Rhoma Irama, hanya begadang yang tiada artinya. Cuma ngetik semaunya.
Artinya Anda dapat menghasilkan posting yang lebih bagus dan lebih kaya karena melakukannya dengan hati berbalut niat. Ya motretnya, ya nulisnya. Saya percaya itu.
Cerita #8: Belajar Meniti Jembatan

Mereka saling tunggu. Kemudian salah satu anak perempuan memberanikan diri meniti jembatan berbahan besi siku itu. Teman-temannya tetap di belakang. Akhirnya dua anak menyusul. Selamat sampai seberang. Sisanya mengikuti.
Hanya meniti jembatan di atas kanal di selebar tiga meteran. Kenapa tak berani?
Untuk yang belum bisa, sejumlah hal terasa membayakan. Itu tak dapat disalahkan. Setiap orang pernah mengalami. Takut terhadap sesuatu yang baru. Kurang yakin jika tak ada mendampingi dan mencontohkan.
Dulu saya pernah mencobakannya untuk Day, putri saya, saat dia berusia empat tahun. Juga meniti jembatan, lebarnya sekitar satu meter, berbahan beton. Saya di belakangnya, tapi setelah sampai di tengah saya berhenti, padahal dia terus berjalan.
Setibanya di seberang dia menengok. Kaget. Saya masih di belakang dan memujinya, “Kamu hebat, sayang!†Dia senang. Sampai sekarang masih terkesan oleh pengalaman itu.
(131 kata | lokasi: seberang taman teras, geser sekitar 15 meter)
Cerita #7: Sepetak Taman di Teras Samping

Tak perlu seorang gardener sewaan untuk menghijaukan sudut rumah. Teras samping sebuah rumah tipe sudut sudah membuktikannya.
Teras yang di tepi jalan, menghadap ke kanal, itu diisi beberapa tanaman. Untuk pot besar cukup memanfaatkan bekas wadah cat lima galonan dan ember palstik hitam yang biasa dipakai untuk proyek bangunan.
Saya tak ingat sejak kapan pot-pot itu hadir. Saya juga tak ingat apakah sebelum ada pot, anak tangga di teras itu dipakai untuk duduk. Saya pun tak ingat pernahkah penghuni berjemur pagi di sana, karena teras itu menghadap ke timur.
Teras rumah orang lain memang bukan urusan kita. Mau jorok dan berantakan silakan. Tapi kalau terawat asri kita ikut senang.
(109 kata | lokasi: sekitar 50 meter dari mobil salesman)
Cerita #6: Mobil Penjaja dan Kesewenangan Konsumen

Mobil itu hampir dikenali oleh semua penghuni kompleks perumahan di banyak tempat. Mobil yang mengangkut wiraniaga penjaja alat-alat rumah tangga semisal mesin cuci dan pengisap debu.
Mereka, para wiraniaga itu, biasanya menawarkan dagangan dengan membuat demo. Jika pemilik rumah tertarik maka akan ditawari pembelian secara kredit.
Pernah di sebuah perumahan nun di Bogor sana, demo mesin cuci dan pengering dimanfaatkan oleh para tetangga pemilik rumah yang diprospek. Seprei sampai gorden pun dicuci. Hingga magrib tiba, pencucian belum usai. Tega nian mereka.
(79 kata | lokasi: sekitar 30 meter dari “rumah yang belum dijual“)
Cerita #5: Rumah belum Dijual

Baru “akan dijualâ€. Belum “dijualâ€. Dapatkah kita mengartikan itu belum ditawarkan? Saya menganggapnya sudah ditawarkan, bahkan secara terbuka, melalui maklumat. Tapi kalau sudah laku belum tentu akan ada pengumuman “terjualâ€.
Bahasa Indonesia itu gampang-gampang susah dan sulit-sulit mudah. Paling merepotkan ketika kita harus menjelaskan kepada orang asing yang sedang belajar “bahasaâ€.
(51 kata | lokasi: sekitar 10 meter dari rambu “anak main”)
Cerita #4: Bermain tak Kenal Waktu

Memang demikianlah dunia anak-anak: bermain dan bermain. Kapan? Sepanjang waktu. Alangkah bahagianya. Betapa repot orangtuanya.
Tak percaya? Cermatilah rambu itu. Anak-anak sedang bermain. Anda melintas di sana pukul tujuh pagi, isinya sama. Anda melintas pukul empat sore, pesannya sama. Anda melintas tengah malam, tulisan tak berubah. Anak-anak sedang bermain.
(49 kata | lokasi sekitar 100 meter dari warung)
Cerita #3: “Kok Saya nggak Difoto?â€

Setelah memotret rambu di depan warungnya, si pemilik warung bertanya kepada saya, “Kok saya nggak difoto?â€
Tak saya buang kesempatan itu. Maka saya bidik dan jepretlah dia selagi menyapu jalan di depan warungnya. Lalu hasilnya saya tunjukkan. Dia tertawa senang. Semoga saya ingat untuk mencetak foto itu.
Siapa sih dia? Saya tak tahu namanya tapi kenal wajahnya. Dia pun hapal wajah saya karena beberapa kali saya membeli rokok dan air botolan saat melintas. Ingatan saya dan istri saya tentang warung itu sama: dagangannya yang penuh dan lengkap itu tertata rapi.
Warung dan pembeli. Hubungannya seringkali akrab tapi timpang. Para pembeli hapal wajah pemilik warung tapi pemilik warung belum tentu. Tapi kadang ada saja penjual yang ingat ciri-ciri pembeli, yang hanya datang sekali. Dalam kasus tertentu, pengenalan seperti itu akan membantu polisi – dan, ehm, reporter yang sedang melakukan investigasi.
(138 kata | lokasi: seberang rambu dilarang ngebut)
Cerita #2: Di Kompleks Lain Silakan Ngebut

Rambu itu jelas dan tegas. Para pelanggar boleh dianggap buta huruf dan kurang berbudaya. Tapi orang sok kritis bisa saja menyimpulkan, “O, berarti kalau di luar kompleks boleh ngebut ya?â€
Terserah. Yang penting jangan di dalam kompleks. Lho, kompleks yang mana? Kalau mau berlengkap kata, sekaligus nyinyir, papan itu boleh bertuliskan, “Dilarang Ngebut dalam Komplek(s) iniâ€. Artinya mau ngebut di kompleks lain – terutama yang tak memasang rambu segaya bahasa – silakan saja.
Apa pun maksudnya, sebetulnya ada prinisp ekonomi kata yang efektif dan tak membuka debat: “Dilarang Ngebut!†Ada juga yang galak tapi basbang: “Ngebut Benjut!â€
(95 kata | lokasi: sekitar 100 meter dari gerbang kompleks)
Cerita #1: Pesohor bukan Epolet

Aktor Dede Yusuf (terakhir main film atau sinetron apa sih?) mencalonkan diri jadi wakil gubernur Jawa Barat. Itu bagus.
Dulu, sebelum 1998, tak semua orang boleh dan bisa jadi calon kepala daerah. Semuanya didrop dari pusat (Departemen Dalam Negeri, atas petunjuk presiden dan markas besar tentara). Pemilihan di DPRD hanya ketok palu.
Kalau hanya ketok palu, buat apa dulu ada lebih dari satu paket calon, dan yang menang pasti serdadu? Ini seperti sangkutan epolet (épaulette) pada baju dinas. Ada tapi tidak untuk dipasangi tanda pangkat di pundak.
Sekarang, akan menang atau kalah, Dede Macan Yusuf (putra Rahayu Effendi) bukanlah epolet. Siapkan pasukan Bodrex ya, De!
(105 kata | lokasi: gerbang kompleks; pilar yang menghadap ke dalam)